Home Profil Mansur Samah, S.Sos : Dari Manusia Jalanan Menjadi Sarjana

Mansur Samah, S.Sos : Dari Manusia Jalanan Menjadi Sarjana

148
0
SHARE
Mansur Samah, S.Sos : Dari Manusia Jalanan Menjadi Sarjana

Keterangan Gambar : Mansur Samah, S.Sos (Sumber Foto : ist/pp

“Kampus STAIDI Al Hikmah Jakarta membuatku semakin beriman,” ujar lelaki asal Alor itu lirih.

JAKARTA II Parahyangan Post - Siang yang terik di awal tahun 2019 menjadi saksi kepergian seorang lelaki kurus berwajah tirus dari Baranusa, pesisir cantik di Alor. Laut berkilau diterpa matahari, sementara angin pantai membawa kesedihan yang tak terucap.

Di atas dek kapal, Mansur berdiri memandangi tanah kelahirannya yang perlahan hilang dari pandangan. Ia meninggalkan kampung halaman, meninggalkan ibunya yang telah membesarkannya seorang diri sejak sang ayah meninggal ketika ia masih kecil.

Senja mulai turun. Ombak mengguncang kapal seakan hendak menggoyahkan tekadnya.

Namun Mansur menatap lurus ke depan.

“Aku tak akan goyah,” ucapnya dalam hati.

Pahitnya hidup di kampung memaksanya hijrah ke tanah Jawa dengan satu harapan: hidup yang lebih baik.

Tetapi Jawa tidak menyambutnya semudah yang ia bayangkan.

Penyesalan mulai menghantui. Ia teringat masa sekolah yang disia-siakan untuk bermain dan berkelahi. Ilmunya minim, keterampilannya nyaris tak ada. Pengalaman terbaik yang ia miliki hanyalah keberanian dan amarah.

Ia dikenal sebagai lelaki keras yang ditakuti banyak orang—dan sering membuat ibunya menangis sepulang dari perkelahian.

Hidup merantau dan tinggal di rumah kerabat tak berlangsung lama. Ketika ajakan menjadi preman datang dengan iming-iming uang cepat, Mansur menerimanya tanpa ragu.

Modalnya hanya satu: nekat.

Ia menjalani hidup di jalanan. Menarik paksa milik orang lain, melukai orang demi menyenangkan atasan, tenggelam dalam minuman keras, makanan haram, dan dunia malam. Semua itu menjadi pelarian dari kekosongan jiwanya.

Hari demi hari berlalu hingga ia lupa pada janji kepada ibunya. Bahkan, ia hampir lupa kepada Tuhan.

Tubuhnya yang dulu kurus kini berisi oleh kehidupan malam yang kelam. Namun jiwanya semakin kosong.

Hingga suatu hari, kakak perempuannya datang menemuinya.

Tatapan perempuan itu penuh kecewa dan sedih. Wajah Mansur mengingatkannya pada almarhum ayah mereka. Dengan suara bergetar, sang kakak memeluk adik bungsunya sambil menahan tangis.

“Kembalilah ke jalan Allah,” pintanya.

Namun Mansur hanya diam. Ia tahu hidupnya salah, tetapi ia juga tak tahu bagaimana mencari nafkah dengan cara yang benar.

Akhirnya, sang kakak memintanya kuliah di STAIDI (Sekolah Tinggi Agama Islam Dirosah Islamiyah) Al Hikmah Jakarta agar ia memiliki lingkungan yang baik dan Islami. Selain itu, menurut sang kakak, gelar sarjana akan memudahkannya mencari pekerjaan yang layak.

Awalnya Mansur menerima saran itu hanya untuk menyenangkan hati kakaknya.

Lalu datanglah pandemi Covid-19 tahun 2021.

Klub malam tempatnya bekerja tutup. Pekerjaan “panas” lainnya pun mulai sepi. Dalam keadaan terdesak, Mansur menerima tawaran menjadi marbot masjid.

Alasannya sederhana: ia tak lagi mampu membayar tempat tinggal. Menjadi marbot setidaknya memberinya tempat berteduh dan sedikit penghasilan untuk makan sehari-hari.

Namun tanpa disadari, lingkungan masjid perlahan mengubah hidupnya.

Beberapa bulan kemudian, pesan kakaknya kembali terngiang. Dengan tabungan seadanya, Mansur akhirnya mendaftar kuliah di STAIDI Al Hikmah Jakarta, mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Baginya, jurusan itu terasa paling mungkin dijalani—biayanya terjangkau dan dapat dicicil sesuai kemampuan.

Awal kuliah berjalan biasa saja. Seusai tugas sebagai marbot, ia berangkat kuliah dari sore hingga malam.

Namun bara emosi dalam dirinya belum benar-benar padam.

Suatu ketika, ia tertangkap saat mengikuti demonstrasi mahasiswa. Delapan bulan masa tahanan memberinya status baru: mantan narapidana.

“Ya, saya pernah ditahan cukup lama karena demo mahasiswa. Saya merasakan dinginnya lantai penjara dan kerasnya jeruji besi. Tapi itu menjadi pelajaran berharga tentang kehidupan,” tuturnya.

Syukurnya, selepas bebas, STAIDI Al Hikmah tetap menerimanya sebagai mahasiswa.

Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada penghakiman.

Para dosen tetap merangkul dan membimbingnya tanpa memandang masa lalunya.

“Saya merasa hidup kembali lewat siraman rohani dari para ustaz dan dosen. Terima kasih kepada para guru yang membimbing saya menuju jalan kebaikan,” katanya penuh haru.

Sejak itu, Mansur mulai bersungguh-sungguh menjalani kuliah.

Di masa kuliah pula ia menikahi gadis pilihannya, seorang mualaf keturunan Timor Leste yang juga menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Kupang.

Kelahiran anak pertama membuatnya berpikir lebih keras tentang masa depan. Dengan sisa tabungan yang dimiliki, ia membeli motor secara kredit dan mendaftar menjadi pengemudi ojek online.

Ia meninggalkan tugas sebagai marbot dan mulai mengais rezeki di jalanan Jakarta.

Siang malam ia bekerja demi menafkahi keluarga, membiayai kuliahnya sendiri, dan membantu pendidikan istrinya.

Mansur yang dulu dikenal keras perlahan berubah.

Ilmu yang ia dapat di kampus mengajarkannya tentang kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Jika dulu ia mudah marah ketika haknya diganggu, kini ia belajar menahan diri dan mendekat kepada Allah.

Lingkungan yang baik perlahan membentuknya menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga akhirnya tibalah masa akhir kuliah.

Sidang skripsi sudah di depan mata. Namun ujian kembali datang. Biaya kuliah harus segera dilunasi, sementara istrinya akan melahirkan anak kedua yang membutuhkan biaya besar.

Di saat yang sama, ia tak lagi bisa bekerja sebagai pengemudi ojek online. Mansur panik.

Ia merasa harapannya runtuh tepat di garis akhir perjuangan.

Di bawah terik siang, ia duduk sendirian. Bahunya bergetar menahan tangis.

“Ya Allah… Ya Allah… Astaghfirullah… Tolong hamba, ya Allah…” lirihnya berkali-kali.

Mansur, mantan preman itu, kini tidak lagi mengandalkan kekuatan dan kemarahan. Ia memilih bersimpuh dan memanggil nama Allah di tengah keputusasaan.

Kampus STAIDI Al Hikmah yang berlokasi di jalan Bangka 3 A No. 25 - Jakarta Selatan, mengajarkannya untuk berserah diri dan percaya bahwa setiap ujian pasti membawa hikmah.

Waktu terus berjalan dan pada akhir April 2026, Mansur tersenyum bahagia.

Sidang skripsinya selesai. Ia resmi menyandang gelar sarjana.

Anak keduanya lahir sehat dan sempurna.

Lebih dari itu, ia kini bekerja di sebuah perusahaan nasional dengan rezeki yang halal.

Dengan mata berkaca-kaca ia berkata: “Alhamdulillah… Fabiayyi ?l?’i rabbikum? tukadzdzib?n.”

[adeff/PP]