Home Seni Budaya 60 KUMPULAN PUISI KANG THOHIR TERBARU 2026

60 KUMPULAN PUISI KANG THOHIR TERBARU 2026

#sastra

24
0
SHARE
60 KUMPULAN PUISI KANG THOHIR TERBARU 2026

Keterangan Gambar : Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir. (sumber foto : ist/pp)

1.

Tumpuan Hujan
Oleh: Kang Thohir

Setetes harapan pada tumpuan hujan 
Melambai-lambai angan 
Menuju kemurnian 
Di balik ratapan menuai kemuliaan 
Membumbung tinggi 
Menepis halunisasi 
Menjadi bukti 
Dalam perjalanan kehidupan sejati 
Di pelita agung Sang Pemberi 

Brebes, 07 Juni 2026

2.

Aliansi Kehidupan
Oleh: Kang Thohir

Aliansi kehidupan 
Di bukit senja 
Ramai-ramai berbondong-bondong 
Bagai burung-burung terbang 
Berkumpul dalam satu atap 
Di bumi nusantara yang kini kutatap 

Brebes, 07 Juni 2026

3.

Haluansi dan Sunyi
Oleh: Kang Thohir

Perbedaan antara haluansi dan sunyi 
Dalam ketimpangan sosial 
Hemat ekonomi 
Mungkin hanya bisa meratapi sepi 
Namun ada maknawi di balik ruang haluansi menjadikan  imajinasi, yang kreasi 

Brebes, 07 Juni 2026

4.

Aksa di Selaput Mata
Oleh: Kang Thohir

Aksa di selaput mata di kacamata indra panorama. Melintir di sebuah peristiwa, meski bergelayut asa. Tumbang diterjang badai melanda, di ujung mata air senja. Kuaktifkan cakra ajna untuk mengetahui mana dewa dan mana durja. Di antara pupus cita-cita digerus masa dan air mata. Api sandiwara semakin merajalela, tertutup pintu-pintu di atas payoda. Burung-burung bertebaran di langit cakrawala, mencari perlindungan dari amukan angkara murka. Di balik jendela hitam menatap dukhan berkabut, menyesakan dada. Mungkin ada rembulan yang akan tertutup awan hitam. Aku tenggelam dalam hati yang kian gelisah. Bingung 'tuk melangkah. Di balik dinding putih tersirat makna hitam yang semu. Aku tertipu, namun tetap menunggu. Adakah kirannya aku mendapat pertolongan itu? Dan apakah kiranya harapan itu masa ada? Di balik realita yang semu, di ujung senja menyapa malam. Tertidur dalam mimpi-mimpi yang 'tak pernah terwujud.

Brebes, 06 Juni 2026

5.

Sebutir Pasir
Oleh: Kang Thohir

Dari tumpukan gunung pasir
Diambil dari bawah sungai mengalir
Di permukaan cinta berdesir
Ada sebuah harapan, meski hanya sebutir pasir
Di ujung senja, yang terakhir

Brebes, 07 Juni 2026

6.

Kecewa Hampa Merana 
Oleh: Kang Thohir 

Kekecewaan pasti ada 
Seperti petikan alunan gitar yang tiba-tiba putus
Ditengah-tengah lagu-lagu cinta yang menggema
Namun kini telah pupus
Menjadikan asa kian tergerus
Pilu, kecewa, hampa dan merana

Brebes, 07 Juni 2026

7.

Sang Sunyi Menghampiri Malam 
Oleh: Kang Thohir 

Sang sunyi menghampiri malam 
Diterpa angin dihempas badai 
Melambai 
Terberai 
Namun masih berandai-andai 
Kencang kabut petang hilang 
Kerap menerjang 
Namun lunglai 

Brebes, 07 Juni 2026 

8.

Perahu-perahu Rindu 
Oleh: Kang Thohir 

Jatuh bangun diterpa badai 
Luapan jiwa di samudra pasai 
Ombak menderu 
Kekhawatiran yang semakin pilu 
Retaknya sang perahu-perahu rindu 
Bergelayut di kalbu 

Brebes, 07 Juni 2026

9.

Bumi Nusantara 
Oleh: Kang Thohir 

Hutan belantara 
Di ujung tombak kekerdilan 
Dirampas begitu saja 
Tatapan penuh keangkara murkaan 
Di balik peristiwa 
Bumi nusantara 
Rawa-rawa menjadi tawa-tawa 

Brebes, 07 Juni 2026 

10.

Sumber Mata Pencaharian 
Oleh: Kang Thohir 

Hutan adalah sumber kehidupan 
Pelindung dari kebanjiran 
Penopang para binatang-binatang dan hewan 
Sumber mata pencaharian 
Di ufuk barat sana 
Adalah mata air kehidupan 
Hirap suasana 
Menjadi berlinang air mata 
Entah, sampai kapan? 

Brebes, 07 Juni 2026 

11.

Adapun Permata Dunia 
Oleh: Kang Thohir 

Adapun permata dunia 
Adalah hutan belantara 
Berisi tentang cerita 
Mengandung pepohonan asmara 
Berbuah cinta penuh makna 
Namun ditebang begitu saja 
Oleh manusia 
Ah, sudahlah! 

Brebes, 07 Juni 2026 

12.

Kisi-kisi Arunika dalam Asmaraloka 
Oleh: Kang Thohir 

Pancaran kasih mengalir pada sang permata hati di kacamata indra. Membaca jiwamu di lubuk hati di ujung senja. Ada makna di balik realita, meski tembok dinding menyatu pada waktu, namun akan terkikis juga. Pada arah tuju, menjelma simbol-simbol di kartasura di bencana begola. Akan nampak indah bagai cahaya permata. Seperti dirimu, kini terdiam membisu menanti jawaban darimu. Bahwa kelopak matamu menandakan kecewa. Di bingkai wajahmu yang teduh, seperti arunika berganti payoda. Tak nampak bahagia, namun hakekatnya masih cinta, tapi rasa gengsi dan cemburu tuk menatapku. Biarkan aku menjelma menjadi lentera bagimu tuk menerangi kalbumu yang lagi kacau. Niscahya kamu akan tersenyum kembali. 

Brebes, 07 Juni 2026 

13.

Menyambut Arunika Menyapa
Oleh: Kang Thohir 

Di ujung kesunyian malam 
Menyambut arunika menyapa 
Di antara gerimisnya hati yang karam 
Melambai angan, namun tak tersampaikan 

Brebes, 08 Juni 2026 

14.

Di Baling-baling Asa 
Oleh: Kang Thohir 

Di dalam gejolak rindu yang sunyi 
Di baling-baling asa 
Tersimpan mutiara berkilau mentari 
Hanya satu di antara mereka 

Brebes, 08 Juni 2026 

15.

Mata Menuju Cinta 
Oleh: Kang Thohir 

Mata menuju cinta 
Titik sepi 
Di bilik kamar sunyi 
Hanya bisa meratapi bahtera asa, tersembunyi 

Brebes, 08 Juni 2026 

16.

Menjelma Menjadi Kerinduan 
Oleh: Kang Thohir 

Kepingan bahtera cinta melambai, di ujung tepian. Samudra cinta memang anugerah Mahacinta, menjadi saksi. Hanya dengan harapan menjelma menjadi kerinduan. 

Brebes, 08 Juni 2026 

17.

Selembut Tali Harapan 
Oleh: Kang Thohir 

Selembut tali harapan, pada titian 
Melangkah 
Di balik semua peristiwa, meski di ujung tanduk kekecewaan, masih ada harapan 
Jangan kau sia-siakan, 
waktu yang akan berjalan. Hata menuju kebahagiaan. 

Brebes, 08 Juni 2026 

18.

Ada Muka Ada Cerita 
Oleh: Kang Thohir 

Ada muka ada cerita 
Realita, yang mana? 
Handuk dilap di pantatmu, meski kau tersenyum durga 
Melambungnya harapan, namun selalu kecewa; murka. 
Lalu teriakan hanyalah sebuah lelucon 
Hingga tak ada wibawa sama sekali 
Hanya air mata di ujung penyesalan 
Seperti yang kita lihat tadi 

Brebes, 08 Juni 2026

19.

Semu di Ujung Senja 
Oleh: Kang Thohir 

Di ujung panggung kau bersandiwara 
Merasa puas hasil rekayasa 
Di antara mereka durjana 
Menatap bayang-bayang semu di ujung senja 

Brebes, 08 Juni 2026 

20.

Adalah Semu 
Oleh: Kang Thohir 

Ruang sunyi tetap berdiri 
Hanya tertutup kain hijau 
Kelambu 
Di balik semua, adalah semu 

Brebes, 08 Juni 2026

21.

Arunika Melambai Jauh 
Oleh: Kang Thohir 

Arunika melambai jauh
Kini senja menyapa
Meski kalbu kian peluh
Tatapan sunset membawa cinta, penuh indah nan berwarna

Brebes, 08 Juni 2026

22.

Di Balik Diam 
Oleh: Kang Thohir

Ada cerita di balik diam 
Menganga di ujung senja 
Meraup dinginnya malam 
Asa bergelayut di tepian samudra 

Brebes, 09 Juni 2026 

23.

Di Balik Tangga 
Oleh: Kang Thohir 

Ada duri di balik tangga 
Di balik semua adalah sandiwara 
Mengapa demikian, karena harta 
Menatap semu di balik realita 

Brebes, 09 Juni 2026 

24.

Sang Payoda 
Oleh: Kang Thohir 

Ada cerita menarik sang arunika 
Bila padam di antara mereka 
Bercumbu pada sang payoda 
Berganti nama sang cakrawala 

Brebes, 09 Juni 2026 

25.

Di Ujung Tenda 
Oleh: Kang Thohir 

Api sandiwara di ujung tenda 
Bercengkrama durjana 
Mendekap di balik realita 
Namun, akhirnya hanya dusta semata 

Brebes, 09 Juni 2026 

26. 

Menjadi Maknawi 

Oleh: Kang Thohir 

Era globalisasi menjadi saksi 
Kini berubah menjadi maknawi 
Digital adalah simbol kemajuan zaman 
Namun, hakikatnya sudah ditinggalkan 

Brebes, 09 Juni 2026 

27. 

Renjana di Ufuk Barat 
Oleh: Kang Thohir 

Di dalam kegelapan malam 
Renjana di ufuk barat 
Memungut kata rinai yang mencekam 
Tepian harapan kian hirap dan karat 

Brebes, 09 Juni 2026 

28.

Tak Kunjung Terang 
Oleh: Kang Thohir 

Tak kunjung terang 
Saat-saat lentera menjadi padam 
Di ujung senja mendekap malam 
Sang rembulan pun seakan bersembunyi di balik awan yang hitam 

Brebes, 09 Juni 2026 

29.

Di Balik Bilik Kesunyian 
Oleh: Kang Thohir 

Aku menatap rembulan 
Di balik bilik kesunyian 
Tak ada harapan 
Hirap semua kenangan 

Hanya secercah angan 
Menjadi bayang-bayang yang tak pernah padam 
Namun hakikatnya adalah penantian 
Menjadi dekapan hangat 
Dipeluk erat 
Namun, semua akan minggat 
Aku menatap 

Brebes, 09 Juni 2026

30.

Ceruak Menunggu 
Oleh: Kang Thohir 

Ceruak mulut yang memoar 
Pusat pusaka sabar 
Di balik ruang kalbu 
Di ujung senja yang ruas menunggu 

Brebes, 10 Juni 2026 

31.

Beramal Satu 
Oleh: Kang Thohir 

Mencekam pusaran kuburan 
Di balik semua penantian 
Walau seram akhir waktu 
Di antara mereka yang beramal satu 

Brebes, 10 Juni 2026 

32.

Antara Rindu dan Cinta Adam dan Hawa 
Oleh: Kang Thohir 

Adam bersama Hawa di surga 
Mereka memang cinta 
Di bawah Tuhannya 
Bersifat Fathonah mempunyai akal 
Meski tak kekal 
Dari firman-Nya 
Mereka diangkat menjadi Khalifah 
Di bumi menjadi pemimpin manusia 
Hingga di ujung senja 
40 tahun sudah dalam kesunyian 
Hingga akhirnya bertemu jua 
Dipelukan sang Hawa di bukit Jabal Rahmah 
Berpeluk mesra layaknya renjana 
Yang tak kunjung tiba 
Pada rindu dan cinta 
Dalam naungan Tuhan Sang Mahacinta 
Arunika dipertemukan jua 
Sungguh indah dan nyata 
Cikal bakal kehidupan bagi manusia di dunia 

Brebes, 10 Juni 2026 

33.

Zaman Peradaban Manusia 
Oleh: Kang Thohir 

Zaman peradaban manusia 
Kicauan burung Nuri 
Seperti habis gelap menjadi lentera 
Ramai nan sunyi 

Meramu semu 
di Pipit Asmarani 
Uap kabut hitam 
Namun mencekam di kalbu 

Brebes, 10 Juni 2026 

34.

Serasa Menghampiri 
Oleh: Kang Thohir 

Serasa menghampiri 
Di ujung sunyi 
Seperti pembela 
Namun pada akhirnya hanya dusta semata 

Tipuan dan sandiwara 
Di zaman modern 
Hanya menatap nyata 
Menjelma burung hirap di pelupuk mata 

Brebes, 10 Juni 2026 

35.

Siapa yang Duluan Berlabuh 
Oleh: Kang Thohir 

Dalam pelukan rindu 
Bersandiwara permata 
Takkan pernah goyah 
Hanya derapan tanda tanya menyerah 

Pikiran-pikiran yang keruh 
Membuat jenuh 
Siapkan nakhodanya 
Siapa yang duluan berlabuh 

Brebes, 10 Juni 2026 

36.

Di Ujung Dunia 
Oleh: Kang Thohir 

Kapal cinta berlayar di samudra Antartika 
Di ujung dunia 
Menurut sang penerima 
Pemberi logika 

Bahtera kehidupan 
Di kacamata indra 
Luas tak bertepi 
Hanya renungan tuk menepi 

Brebes, 10 Juni 2026

37.

Sejarah akan Ada 
Oleh: Kang Thohir 

Tak pernah padam menunggu terkungkung 
Sejarah akan ada 
Bila waktu yang akan datang 
Sekiranya aku menyapa 

Brebes, 10 Juni 2026 

38.

Ada Bias Pelangi 
Oleh: Kang Thohir 

ada bias pelangi 
sejuk di balik ruasnya hati 
penuh warna 
ataukah menjadi sucinya sang jiwa 
penuh makna 

Brebes, 10 Juni 2026 

39.

Tersenyum dalam Diam 
Oleh: Kang Thohir

Kita tersenyum dalam diam, meski kita dalam keadaan mencekam.
Berjalan ditengah cerita, karena darah masih mengalir. Kita berhenti sejenak untuk vakum rehatkan badan. 
Biar sukma terkumpul dalam pelukan cinta yang indah seperti dulu. 

Menelan pahit empedu, masih dianggap lucu. Akan tetapi, kamu masih malu? 
Anggapan itu adalah semu. Entah, aku berbicara pada siapa. Kata orang-orang ia adalah dewa, seperti drama China yang sedang populer saat ini. Tentang berkultivasi di dalam diri. Punya kekuatan sakti, bisa mengobati dan bisa berbela diri, layaknya pendekar sakti yang tiada tanding. 

Brebes, 11 Juni 2026 

40.

INDAH DI TENGAH SAWAH  
Oleh: Kang Thohir

Bermacam indah di tengah sawah 
Menampilkan vibes yang baru 
Dikungkung rindu melangkah 
Terasa kalbu kian meramu 

Brebes, 11 Juni 2026 

41.

DI ATAS KUPU-KUPU 
Oleh: Kang Thohir

Hanya bunga-bunga yang indah 
Di atas kupu-kupu 
Meski kadang layu 
Digerus waktu 

Aku ingin menuju 
Permainan kalbu 
Saat ruang rindu 
Menampilkan kesunyian cinta, 
yang semu 

Brebes, 11 Juni 2026 

42.

ASA KIAN RAPUH 
Oleh: Kang Thohir

Terparkir hatiku di cinta yang sunyi 
Asa digadai rindu 
Suasana kerajaan yang kerap runtuh 
Asa kian rapuh 

Brebes, 11 Juni 2026 

43.

ANGAN MENJADI ANGIN 
Oleh: Kang Thohir

Angan menjadi angin 
Lingkungan dingin 
Kerapkali menjadi serangkai makna 
Diam seribu bahasa 

Layaknya pohon tak berbuah 
Diam apatis 
Kian sinis 
Namun, duduk kelihatannya manis 

Brebes, 11 Juni 2026 

44.

RUN DAN SUN 
Oleh: Kang Thohir

Ada makna jiwa 
Pantulan cahaya senja 
Bertepuk tangan sebelah 
Tersenyum di depan mata 

Tertawa di belakang Sanjaya 
Harsa lunglai kian daksa 
Run dan sun mencakup daya 
Kau tak berkutik apa-apa 
Kau Hanya serangkaian tulang, yang tak bermakna 

Brebes, 11 Juni 2026 

45.

DELIMA MENJADI PUSAKA

Oleh: Kang Thohir 

Delima menjadi pusaka 
Pusaka menjadi delima 
Bingung tak usah dicerna 
Semua hakikatnya adalah sama 

Brebes, 11 Juni 2026

46.

MERANGKAK DENGKLAK AIR MATA 
Oleh: Kang Thohir 

Asal kau cerita 
Semua orang akan tahu 
Namun tak usah berumbar suara 
Takutnya kau diadu domba 

Melawan semu berselimutkan sandiwara 
Berakhir cerita yang membuat merana 
Merangkak dengklak air mata 
Ah, sudahlah! 

Brebes, 11 Juni 2026 

47.

HARMONISASI BERSOSIALISASI
Oleh: Kang Thohir 

Kemajuan di atas kejujuran 
Menapaki jalan kesejahteraan 
Keselamatan, kemakmuran dan kedamaian 
Dalam dekapan hidup yang rukun 

Harmonisasi bersosialisasi 
Menawarkan paket cinta yang indah 
Melambai-lambai angan menuju kemajuan tuk melangkah 
Jalan sentosa di Bumi Pertiwi 

Brebes, 11 Juni 2026 

48.

KESUNYIAN MENCIPTAKAN SESUATU
Oleh: Kang Thohir 

Kesunyian menciptakan sesuatu 
Biar hakikatnya adalah satu 
Dalam kemanusiaan yang adil dan beradab 
Tak ada permusuhan menatap 
Kekerdilan pun kian menghirap 

Brebes, 11 Juni 2026 

49.

KEMANUSIAAN NURANI KIAN HIRAP
Oleh: Kang Thohir 

Detail-detail melacak peristiwa 
Tersenyum dikala angkara murka 
Hijab peristiwa di atas rekayasa 
Melawan arus durjana 

Semburat kecil darurat 
Menatap riang sekarat 
Pelupuk mata kian surap 
Kemanusiaan nurani kian hirap 

Brebes, 11 Juni 2026

50.

KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN
Oleh: Kang Thohir 

Kemanusiaan dan kemajuan 
Kemarin tentang kemajuan 
Kini tentang kesehatan 
Kitu tentang kemanusiaan 
Kau ini gimana sih? 
Kerapkali begini, begitu selalu 
Kemajuan menjadi kemunduran 
Kemunduran kian banyak kemunafikan 

Brebes, 11 Juni 2026 

51.

ADA KEMUNAFIKAN
Oleh: Kang Thohir 

Ada kemunafikan 
Bersifat keserakahan 
Melambung tinggi tiada keberkahan 
Hanya sewenang-wenang, tanpa arah tujuan 

Brebes, 11 Juni 2026

52.

DELIK BERBISIK ANGIN KENCANG MENELISIR 
Oleh: Kang Thohir 

Delik berbisik angin kencang menelisir 
Tak disentuh sebutkan air mengalir 
Jalan seperti halnya ulat panjang liar 
Mencari mangsa di atas tumpukan air 

Deruan menyeruak masuk 
Melambai layaknya menyapa 
Namun kiat merangsang ketika dipetuk 
Memakan tanpa nurani hingga menusuk 

Brebes, 12 Juni 2026 

53.

TEMBUS PANDANG 
Oleh: Kang Thohir 

Tembus pandang aura kasih 
Tekan pisau melembu 
Asap rokok menjadi pengulu 
Sayatan melek sembuju 

Tiada makna semulu 
Tiada harkat menemu 
Biar panca indra yang akan menjadi penentu, ruas kalbu 

Brebes, 12 Juni 2026 

54.

AURA SAKTI MENYENTUH KALBU 
Oleh: Kang Thohir 

Aura sakti menyentuh kalbu 
Layaknya telepati 
Di ujung bilik itu 
Bercengkrama dalam waktu 

Menelisik di balik cermin atsar 
Primeyna di uluk jiwa 
Bergetar 
Melawan arus jalan melambaikan aksa, daksa, sukma 

Brebes, 12 Juni 2026 

55.

MELAMBAI AYU 
Oleh : Kang Tohir

Di bawah pohon pisang 
Tumbang 
Pusaka rindu 
Melambai ayu 

Brebes, 12 Juni 2026

56.

GADIS DESA AYU
Oleh : Kang Tohir 

Gadis desa ayu 
Bermain dadu 
Hingga lupa waktu 
Berdiri antara pahit dan rindu 

Brebes, 12 Juni 2026 

57.

YANG TAK BISA DIHINDARI
Oleh : Kang Tohir 

Serpihan hati 
Di suatu hari 
Merasakan kenikmatan sakit ini 
Tak berdaya menghadapi 

Asa kian rapuh 
Diri 
Seakan menjadi momok 
Yang tak bisa dihindari 

Brebes, 12 Juni 2026

58.

RAHAT MENARA
Oleh : Kang Tohir 

Butuh tenaga
Biar menatap penuh
Rahat menara
Singgah tuk berlabuh

Brebes, 12 Juni 2026 

59.

SOAL HARTA
Oleh : Kang Tohir 

Soal harta 
Bisa orang menjadi munafik 
Melirik, licik 
Mudik lalu balik 
Membawa pelik 
Sange mendelik 
Tak berkutik 
Meramu tak berdaya menatapnya 
Sangik, politik 

Brebes, 12 Juni 2026

60.

AKSARA HARMONI RINDU
Oleh : Kang Tohir 

Aksara
             Cinta
                       Belah
                                 Harmoni
                                           Permadi
  Jalan turun naik gunung salju
           Tak usah merayu
       Aku sudah mencintaimu
Di aksara rindu, aku melambaimu di kalbu, saat menatapmu

Brebes, 12 Juni 2026
----------------------------------------------- 
TENTANG PENULIS: 

Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. 

Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat 'tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).