Home Opini Thucydides s Trap Dalam Relasi Amerika Serikat-Tiongkok

Thucydides s Trap Dalam Relasi Amerika Serikat-Tiongkok

62
0
SHARE
Thucydides s Trap Dalam Relasi Amerika Serikat-Tiongkok

Oleh: Boy Anugerah,
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM di DPR RI & Founder Senayan Geopoltical Forum (SGF)

Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, selama dua hari di Tiongkok bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jin Ping, pada 14-15 Mei, menjadi penanda baru dalam relasi diplomatik kedua negara. Banyak hal yang dibahas dalam pertemuan kedua kepala negara tersebut, mulai dari masalah ekonomi perdagangan, teknologi, senjata nuklir, Selat Hormuz, hingga persoalan Taiwan yang menjadi sumbu konflik di antara kedua negara. Kedua kepala negara tersebut mengungkapkan apresiasi satu sama lain terhadap pertemuan tersebut dengan menyebut pertemuan mereka sebagai fondasi untuk kerja sama yang lebih baik ke depan.

Banyak pihak yang berharap—terutama negara-negara yang terdampak oleh rivalitas sengit kedua negara dalam sepuluh tahun terakhir, bahwa pertemuan Trump dan Jin Ping bukanlah basa-basi diplomatik saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pertarungan kedua negara berlangsung di banyak sektor kehidupan mulai dari perang dagang, teknologi, proksi kawasan, hingga perlombaan senjata. Dalam konteks perang dagang misalnya, ada signifikansi negatif yang ditimbulkan dalam bentuk ketidakpastian pasar, gangguan pada rantai pasok komoditas global, serta kenaikan inflasi. Sedangkan dalam konteks perang AS-Iran, Tiongkok dipandang memiliki relasi kuasa yang besar terhadap Iran untuk menentukan arah peperangan. Maka dari itu, pertemuan Trump-Jin Ping ini dipandang fundamental untuk menurunkan tensi rivalitas yang sudah lama terbangun.

Jebakan Thucydides

Dinamika rivalitas yang berlangsung di antara kedua negara cenderung mengarah pada situasi yang dinamakan oleh ilmuwan politik AS, Graham Allison, sebagai Thucydides’s Trap. Dalam bukunya yang berjudul “Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?”, Allison menjelaskan bahwa Thucydides’s trap merujuk pada situasi di mana jika sebuah kekuatan baru muncul untuk menantang adidaya yang sedang berkuasa, risiko terjadinya perang atau konflik bersenjata sangat mungkin untuk terjadi. Allison menggunakan istilah ini dengan merujuk pada pandangan sejarawan Yunani kuno, Thucydides, yang melakukan pengamatan terhadap perang Peloponnesia antara Sparta dan Athena. Ia menyimpulkan bahwa penyebab utama perang adalah kebangkitan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya pada Sparta-lah yang menjadikan perang sebagai situasi yang tak terhindarkan.

Lebih lanjut, Allison sebagai ilmuwan politik meneliti 16 tiitk balik sejarah ketika kekuatan baru menantang kekuatan lama, yang mana hasilnya 12 di antaranya berujung pada peperangan. Pada Perang Dunia 1 yang terjadi pada1914-1918, dipicu oleh munculnya Kekaisaran Jerman yang menantang dominasi Kekaisaran Inggris. Sementara Perang Dunia 2 yang berlangsung sepanjang 1939-1945 terjadi karena kebangkitan Kekaisaran Jepang yang menantang supremasi kekuatan Barat di Asia. Di era modern saat ini, rivalitas yang terbangun dan berlangsung sengit antara AS dan Tiongkok dianggap paling representatif untuk mendeskripsikan terminologi tersebut. Persaingan sengit di bidang ekonomi, perdagangan, teknologi, hingga militer dapat berpotensi menjadi perang terbuka dan memicu ketidakstabilan politik dan keamanan global apabila tidak dikelola secara hati-hati. Dinamika perkembangan teknologi persenjataan yang semakin meningkat pesat tentu akan berakibat fatal bagi dunia apabila kedua pihak terlibat dalam konflik dan perang terbuka. Maka dari itu, pertemuan kedua kepala negara yang terjadi pada pertengahan Mei ini dipandang memiliki signifikansi yang besar bagi masa depan perdamaian global.

Tanggapan Terhadap Permasalahan

Jalannya pertemuan kedua kepala negara ini berlangsung dalam suasana yang jamaknya terjadi dalam praksis diplomatik antarnegara—seremonial, hangat, dan saling apresiasi. Berbagai tema yang potensial untuk memperkuat hubungan diangkat, terutama isu ekonomi dan perdagangan yang mutualis bagi kepentingan nasional masing-masing negara. Yang paling menarik tentu saja pembahasan pada isu-isu sensitif. Kedua negara memang sepakat memberikan pernyataan bahwa Selat Hormuz harus tetap dalam kondisi terbuka untuk menjamin kelancaran rantai pasok dan rantai konektivitas energi global mengingat keduanya memiliki irisan kepentingan yang sama—Tiongkok yang dependen terhadap pasokan minyak dari Iran, dan AS yang didukung pasokan minyak dari Timur Tengah. Akan tetapi dalam konteks relasi bilateral yang kuat antara Tiongkok dan Iran seperti dukungan teknologi militer dan intelijen dari Tiongkok ke Iran selama peperangan, serta kerja sama strategis pertahanan antara kedua negara dengan melibatkan Rusia sebagai kekuatan politik-militer lainnya menjadi isu yang tetap potensial mengganggu relasi bilateral AS-Tiongkok ke depan.

Pada lapis yang paling dalam, persoalan Taiwan menjadi masalah paling krusial yang menentukan bandul relasi di antara keduanya. Ketegangan dan konflik tetap bisa saja pecah sewaktu-waktu pasca pertemuan ini apabila AS tidak mengendurkan dukungan kepada Taiwan yang semakin bergeliat untuk memisahkan diri. Bagi Tiongkok dalam bingkai One China Policy, Taiwan adalah harga mati bagi kedaulatan nasionalnya yang harus senantiasa dipertahankan. Tiongkok persisten menolak kemerdekaan Taiwan secara de jure. Sementara itu, dukungan yang diberikan oleh AS kepada Taiwan sangatlah kuat, sehingga dipandang sebagai ancaman laten oleh Tiongkok. AS selama ini bermain peran sebagai pemasok senjata utama bagi Taiwan yang mencakup paket senjata bernilai miliaran dolar, skema dana hibah, dan pinjaman militer. Di level domestik, AS memiliki kebijakan dalam negeri (Taiwan Relation Act) untuk menyediakan sarana bagi Taiwan agar dapat mempertahankan diri, sekaligus mempertahankan kemampuan AS untuk menanggapi setiap ancaman keamanan terhadap Taiwan.

Kunci Perdamaian

Kunci bagi kedua negara untuk membina hubungan diplomatik bilateral yang sinergis dan kolaboratif adalah pada pengelolaan isu-isu yang bersifat sensitif. Jika isu sensitif tersebut tidak dikelola dengan baik, sementara salah satu pihak merasakan ancaman terhadap kebijakan yang diambil oleh pihak lainnya, maka tensi potensial meningkat dan menjurus ke arah konflik yang cenderung terbuka. Jika kedua negara berkomitmen untuk keluar dari jebakan Thucydides, maka penghormatan pada kepentingan nasional masing-masing menjadi kunci. Jika menilik pada habituasi diplomatik dan rekam jejak hingga saat ini, Tiongkok tentu jauh lebih bisa dipegang ketimbang AS di bawah Donald Trump. Namun, AS yang saat ini terpojok karena sentimen negatif dunia terhadap perang yang dikobar di Iran, serta berjaraknya AS dengan sekutu tradisionalnya di Eropa, tampaknya akan lebih berhati-hati dan berkomitmen dalam menjalin sinergi dan kolaborasi dengan Tiongkok pasca pertemuan ini. Kita lihat saja. (*)